Journals
2021 EN
Moladad Shafa · Sharifullah Baig
Parental perceptions and perspectives play a critical role in their motivation, interest, participation, and valuation of children’s education which ultimately influences the quality of education in schools. This article reports the change of perception and perspectives of the parents under the influence of a comprehensive school improvement intervention. A quantitative survey approach was employed in this study including 680 parents from 6 districts. The data was collected in two rounds following the pre- and post- intervention approach. The first round of data was collected at the beginning of the project and the second round was collected at its end. The paired sample t-test showed significant difference between pre- and postintervention responses of parents about improved relationships between the school and the parents (p < 0.000), increased cocurricular activities in the school (p < 0.000), fulfillment of students’ educational curriculum requirements (p < 0.000), the provision of equal attention to both boys and girls (p < 0.002), the obligation of the parents to ensure the physical and moral development of their children (p < 0.000), the provision of a safe, healthy, and educational environment at home by the parents (p < 0.000), and the development and maintenance of positivity expressed by parents for the success of their children (p < 0.000). Hence, the study found that a planned intervention has the potential to positively change the perceptions, perspectives, and valuation of children’s academic development.
Valparaiso University College of Business
Journals
2021 UN
Humaira Khoirunnisa · Shafa Amalia Choirinnisa · Raden Muhammad Arvy Ilyasa
Fakultas Hukum UNPAD (FHUNPAD)
Journals
2021 SP
Maya Shafa Nuwita
Pengembangan pariwisata tentunya dikaitan oleh peran peran stakeholder dalam pelaksanaan pengembangan wisatanya. Stakeholder adalah orang-orang atau kelompok yang secara langsung atau tidak langsung di pengaruhi oleh suatu hal. Adanya stakeholder tentu adanya alur koordinasi yang dijalan sebagai kunci kerjasama dalam pengembangan wisata. Artinya tanpa adanya koordinasi yang baik antar stakehorder maka pengembangan wisata tidak terarah dalam satu kesatuan tindakan. Koordinasi merupakan suatu usaha kerjasama antara badan, instansi, unit dalam pelaksnaan program dan berperan sangat vital sehingga terdapat saling mengisi, membantu dan melengkapi. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe deskriptif dengan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data, observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Koordinasi yang dilakukan oleh para stakeholder dalam pengembangan objek wisata Desa Sungai Langka sudah berjalan dengan dinamis, yang ditandai dengan adanya perubahan dan kemajuan dalam pengelolaan pariwisata. Koordinasi yang dilakukan oleh para stakeholder tidak selalu melalui forum resmi atau rapat, melainkan melalui dialog-dialog non formal namun masih dalam tatanan koridor yang jelas. Adapun beberapa kendala yang dihadapi dalam koordinasi antar stakeholder seperti timbulnya pemikiran ego dari masing-masing pihak individu yang menomorsatukan kepentingan pribadi, kedua kendala yang disebabkan oleh minimnya anggaran dana yang membuat alurkomunikasi sedikit terhambat.
Journals
2021 EN
Shafa Yuandina Sekarayu · Nunung Nurwati
ABSTRAKPernikahan merupakan ikatan lahir dan batin berupa penyatuan antara laki-laki dan perempuan atas dasar keinginan untuk memiliki keturunan dan keluarga. Pada dasarnya pernikahan dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kematangan dalam segi fisik, psikologis, dan ekonomi. Namun, di Indonesia sekitar 12 - 20% masih bisa ditemukan pernikahan yang belum disertai dengan kesiapan dari berbagai aspek seperti fisik, ekonomi, dan pengetahuan mengenai kehidupan rumah tangga. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan deskriptif yang akan menggali lebih dalam mengenai pernikahan dini dan keterkaitannya dengan kesehatan reproduksi. Pernikahan usia dini dilakukan oleh seseorang yang rata-rata berusia dibawah 19 tahun yang rata-rata belum siap dalam berbagai aspek dalam pernikahan. Hal ini kemungkinan akan berdampak terhadap kesehatan reproduksi baik untuk perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu, diperlukan persiapan yang dari berbagai aspek dalam melaksanakan pernikahan sehingga upaya untuk menghindari dampak buruk pernikahan usia dini terhadap kesehatan reproduksi dapat diminimalisir. ABSTRACT Marriage is a physical and spiritual bond in the form of a union between a man and a woman based on the desire to have offspring and a family. Basically, marriage is carried out by someone who has matured physically, psychologically and economically. However, in Indonesia, around 12-20% can still be found marriages that have not been accompanied by readiness from various aspects such as physical, economic, and knowledge of household life. This article uses qualitative and descriptive research methods that will explore more about early marriage and its relation to reproductive health. Early marriage is carried out by someone who is under 19 years old on average who is not ready for various aspects of marriage. This is likely to have an impact on reproductive health for both women and men. Therefore, various aspects of preparation are needed in carrying out the marriage so that efforts to avoid the negative impact of early marriage on reproductive health can be minimized.
Journals
2021 EN
Kübra Kaynar · Saadettin Kayıpmaz · AH Çebi
+1 more
Journals
2021 UN
Nurti Budiyanti · Aceng Kosasih · Shafa Aulia Az-Zahra
Journals
2021 EN
Indah Rakhmayani · Nabila Shafa Aulia · Noviyanti Noviyanti
+2 more
Cleaner production is an environmental processing strategy that is implemented on an ongoing basis to increase eco-efficiency in order to reduce risks to human health and the environment. The tofu industry in its production process produces waste, both solid and water. Disposal of waste directly to water bodies will damage the environment by creating unpleasant odors and the hot temperature of waste water which can affect the growth of aquatic biota. Tofu production produces 150 L of liquid waste from the soaking and filtering process. Meanwhile, 50 kg of solid waste is produced from milling soybeans. Solid waste will be used as animal feed and liquid waste will be processed into liquid compost. Keywords: Tofu Production, Cleaner Production, Liquid Compos, Waste Minimization, Mass Balance. Abstrak Produksi bersih merupakan strategi pengolahan lingkingan yang diterapkan secara berkelanjutan untuk meningkatkan ekofisiensi agar dapat mengurangi resiko terhadapat kesehatan manusia dan lingkungan. Industri tahu dalam proses produksinya menghasilkan limbah, baik padat maupun air. Pembuangan limbah langsung ke badan air akan merusak lingkungan dengan timbulnya bau tidak sedap dan suhu air limbah yang panas dapat mempengaruhi pertumbuhan biota air. Produksi tahu menghasilkan limbah cair sebanyak 150 L dari proses perendaman, dan penyaringan. Sedangkan limbah padat yang dihasilkan sebanyak 50 kg yang berasal dari penggilingan kacang kedelai. Limbah padat akan dijadikan pakan ternak dan limbah cair akan diolah menjadi pupuk kompos cair. Kata Kunci : Industri Tahu, Produksi Bersih, Pupuk Kompos, Minimasi Limbah, Neraca Massa.
Journals
2021 EN
Mochammad Junus · Hary Nugroho · Eggipur Pinandita
+2 more
The aim of research to determine the effect of sludge that mixed with plant waste and livestock waste on soil nutrient content and Brassica L. performances The research method used was the experiment of adding local microorganism solution (LMS) of banana weevil, coconut fiber ash and eggshell flour into sludge of quail and octopus waste as organic fertilizer with a completely randomized design (CRD) method with 6 treatments and 4 replications The treatments used consisted of P0: sludge 100%; P1 :sludge 50% + LMS 20% + Ash 10% + Eggshell Flour 20%; P2: sludge 50% + LMS 20% + Ash 12.5% + Eggshell Flour 17.5%; P3: sludge 50% + LMS 20% + Ash 15% + Eggshell Flour 15%; P4: sludge 50% + LMS 20% + Ash 17.5% + Eggshell Flour 12.5% and P5: sludge 50% + LM S 20% + Ash 20% + Eggshell Flour 10%. The result showed that the treatment given had a very significant effect (P <0.01) on the total N content, elements P and K, but the highest average was obtained from P0 (100% sludge), so it can be concluded that had no effect on nutrient content. The average of total N values ranged from 1.15 ± 0.10 to 2.39 ± 0.40 percent, element P ranges from 2.65 ± 0.19 to 5.28 ± 0.19 percent and element K ranges from 1.08 ± 0.05 to 4.28 ± 0.21 percent. And for Brassica L. this treatment give a real effect (P <0.01) to the height and weight of a mustard plant wet and did not give an effect (P <0.05) to the number of leaves of mustard plants. The conclusion of this study are the mixed sludge waste had a significant effect on soil nutrient content and on Brassica L. performance.
Granthaalayah Publications and Printers
Journals
2021 EN
Intan Shafa Maurizka · Soeryo Adiwibowo
Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi adaptasi nelayan terhadap dampak perubahan iklim. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yang dikombinasikan dengan wawancara mendalam kepada sejumlah tokoh. Sejumlah 30 responden ditetapkan sebagai responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, sejak tahun 2015 rumah tangga nelayan mengalami dampak dari perubahan iklim berupa kenaikan muka air laut, banjir rob, dan perubahan cuaca. Tahun 2020 kenaikan muka air laut telah menggenangi rumah warga dan fasilitas umum sepanjang hari. Sebanyak 22 dari 30 responden melakukan adaptasi dengan cara meningkatkan tinggi lantai atau dinding rumah (73 persen). Kedua, sejumlah 29 dari 30 responden (97 persen) tidak mengubah strategi nafkah, lokasi dan periode penangkapan ikan, maupun alat tangkap ikan. Adaptasi nelayan Desa Pecakaran terhadap banjir rob masih sebatas adaptasi fisik rumah.
Kata kunci: Perubahan iklim, dampak sosio-ekologis, strategi adaptasi
Journals
2021 EN
Kania Sofiantina Rahayu · Anida Shafa Salsabila Putri
ABSTRAKKota Palembang memiliki keanekaragaman sumberdaya budaya. Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang mencerminkan ciri khas suatu daerah asal kesenian. Kerajinan tangan merupakan salah satu kesenian Kota Palembang yang berpotensi sebagai daya tarik wisata. Ekowisata kerajinan tangan memiliki pengaruh dalam melestarikan produk kerajinan, meningkatkan perekonomian dan mensejahterakan para pengrajin tradisional di Kota Palembang. Tujuan penelitian ini adalah menginventarisasi dan mengindentifikasi sumberdaya kerajinan tangan di kota Palembang agar dapat dijadikan objek dalam rancangan program ekowisata di Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan yaitu studi literatur, wawancara, observasi langsung dan penyebaran kuisioner. Sumber daya wisata kerajinan tangan yang diinventarisasi terbagi menjadi dua klasifikasi yaitu kerajinan bahan keras dan bahan lunak. Terdapat empat kerajinan tangan di Kota Palembang yaitu terdiri dari satu kerajinan bahan keras dan tiga kerajinan bahan lunak. Sumber daya kerajinan tangan dianalis berdasarkan tujuh indikator penilaian Avenzora (2008) untuk mendapatkan hasil penilaian potensi sumber daya kerajinan tangan unggulan. Potensi kerajinan unggulan di Kota Palembang yaitu kerajinan Laker, Kain Songket, Kain Jumputan dan Ukir Kayu. Berdasarkan hasil identifikasi menunjukkan bahwa stakeholders setuju dan siap jika kerajinan tangan kota Palembang dimasukan ke dalam objek program ekowisata. Program Ekowisata dirancang dengan konsep eksplorasi kerajinan tangan yang melibatkan interaksi antara wisatawan dengan para pengrajin. Adanya program ekowisata kerajinan tangan ini diharapkan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi kawasan dengan kapasitas masyarakat untuk mengelola sumberdaya.
ABSTRACTPalembang City has the diversities of cultural resources. Art is the cultural element that reflects the characteristics of an area. The Handicraft is one of Palembang City's arts which has the potential as a tourist attraction. Handicraft ecotourism has the influences in preserving the handicraft products, improving the economy, and the welfare of traditional craftsmen in Palembang City. This research purpose is to inventory and identify the handicraft resources in Palembang city so that they can be used as objects in the ecotourism program design in Palembang City, South Sumatra Province. The method used is literature study, interview, direct observation, and the questionnaire distribution. The handicraft tourism resources that are inventoried are divided into two classifications, namely the handicrafts with hard materials and soft materials. There are four handicrafts in Palembang City, consisting of one hard material handcraft and three soft material handicrafts. The handicraft resources were analyzed based on the seven assessment indicators from Avenzora (2008) to get the results of the superior handicraft resources potential assessment. The superior handicrafts potentials in Palembang are Laker, Songket, Jumputan, and the wood carving. Based on the identification results, it shows that the Stakeholders agree and are ready if Palembang handicrafts are included in the ecotourism program object. The Ecotourism program is designed with the handicraft exploration concept that involves interaction between the tourists and the craftsmen. The handicraft ecotourism program is expected to stimulate regional economic growth through the resource arranged by the community.